Kritikan Membangun untuk Tahun Politik 2019

Suatu Waktu seseorang teman Sokrates yang bernama Chairephon bertanya terhadap Wawasan di Delphi berkaitan adakah orang yang memiliki daya usaha mengungguli Sokrates. Pemandangan menjawab, tidak ada orang mengungguli keistimewaan Sokrates. Merasa dia tidak bijaksana, Sokrates lalu menakar ibarat Pandangan termasuk dengan cara memeriksa orang-orang yang merasa intelek dan bijaksana.

Sokrates berpikir bahwa di mana pun Kaya ia harus memverifikasi dan mengisyaratkan cerita Orakel Ia pun berbincang-bincang dengan orang yang diliat bijaksana oleh banyak orang, dan bahkan orang itu individual mengaku bijaksana. Ternyata Sokrates tidak meraup inisiatif pada orang itu. Lalu ia datang masih ke orang yang ternama lebih bijaksana daripada Dirinya Tapi, lagi-lagi ia tidak mengidap keunggulan itu. Bahkan tidak lebih bijaksana dari yang sebelumnya.

Begitulah Sokrates mengajarkan kita filsafat kritis. Ia begitu kritis atas klaim-klaim Kejujuran Bahkan melainkan fakta itu diklaim untuk dia Wahid Sokrates tidak menelan begitu saja klaim-klaim Fakta bahkan yang finis dipercaya oleh banyak orang Lagi pula Ia harus mengujinya bahkan lenyap di hadapan rasionalitas. Dengan begitu ia bisa Serius yakin atas suatu Kenyataan Bukan bukti yang tengah bersuasana asumsi, karena lahir dengan cara membebek.

Filsafat menuntut kita untuk Memahami Memahami mengartikan, Memeriksa menerangkan data-data dan gejala yang dihasilkan baik oleh pengalaman kendatipun ilmu-ilmu. Filsafat apabila ajang latihan untuk menyita sikap, memeriksa bobot dari segala pandangan yang disajikan di hadapan kita. Bersikap kritis dengan cara berfilsafat berarti kita tidak kecuali membebek, tunduk apa yang dianggap orang banyak andaikan Petunjuk Namun, kita mesti mampu mengafirmasi secara merdeka apa yang kemudian menjadi anutan dan alternatif kita atas kebenaran tersebut.

Filsafat kritis bukanlah “ancila”, yakni budak istri dari teologi, seperti yang terkabul di masa Abad Kegelapan Eropa. Filsafat kritis bukan pembantu keinginan politik yang kecuali memikirkan egoisme sektoral demi suatu Kedaulatan Filsafat kritis tidak melacurkan nalar yang hanya untuk menderita belas kasihan dan dukungan publik. Filsafat kritis adalah filsafat yang memerdekakan jemaah andaikan bahan yang berani berpikir perorangan dengan cara mandiri. Filsafat kritis berarti menentukan nalar secara kritis.

Absennya Nalar Kritis
Hakikat demokrasi yaitu individualisme, yang berarti lokasi setiap orang begitu liat dan independen dalam partisipasi politik. Demokrasi lahir dari satu buah penghargaan atas kemerdekaan individu. Setiap orang dianggap mampu mensyariatkan Alternatif tidak hanya politik, tapi bahkan banyak pilihan dalam kehidupan.

Lihat juga : contoh tanggapan kritis

Di sayangkan demokrasi yang dipertontonkan saat ini di Indonesia menjelang tahun politik 2019 nanti tidak mendedahkan hal itu. Yang berjalan sampai-sampai pergeseran hakikat demokrasi yang signifikan ke arah penistaan kepada keleluasaan akal pikiran individu. Penggiringan opini publik dipersetujui dengan sangat sistematis dan masif, yang menurunkan matinya nalar kritis publik. Hal ini semakin diperparah dengan politisasi segala hal menjelang menumbuhkan sentimen emosional. Sehingga akal yang dikaruniai untuk menalar fakta akibatnya Sungguh-sungguh tidak dapat berfungsi lagi.

Mesti jujur Diakui itulah potret demokrasi kita saat ini. Demokrasi melainkan di lihat andaikata ajang perkelahian jumlah Pemeluk Yang mampu menyimpan sidang paling banyak, maka itulah yang dianggap sebuah Petunjuk Tanpa adanya pandangan atas keleluasaan nalar dan pilihan dari setiap individu. Demokrasi saat ini menempatkan nalar individu yang sejatinya merdeka tersandera oleh emosi publik. Orang dipaksa untuk memaksa Pengganti bukan diberikan opsi untuk memilih.

Saya sempat berpikir bahwa praktik demokrasi saat ini harus diimbangi dengan kenaikan literasi publik. Tapi, sekarang saya berpikir hal itu tidak cukup. Literasi yang tinggi belum tentu melucuti nalar kritis. Informasi yang dipersetujui secara linier dalam jumlah yang tinggi lebihlebih melainkan bakal mendaulat doktrinasi. Doktrinasi tentu akan mematikan nalar kritis.

Sekarang saya pun berpikir bahwa pers dalam bentuk media massa meskipun fasilitas bersahabat tidak lagi cukup disebut seumpama pilar demokrasi. Sebab saat ini independensi mereka sungguh dipertanyakan selaku Serius Yang tersisa hanyalah independensi semu. Walhasil tidak ada tinggal yang diinginkan dapat Segenap hati independen terkecuali akal sehat yang kita miliki.

Leave a Reply